MODEL-MODEL PEMBELAJARAN KHAS SAINS
Pembelajaran suatu kegiatan yang dirancang oleh guru agar siswa melakukan kegiatan belajar untuk mencapai tujuan atau kompetensi yang diharapkan. Dalam merancang kegiatan pembelajaran ini, seorang guru semestinya memahami karakteristik siswa, tujuan pembelajran yang ingin dicapai atau kompetensi yang harus dikuasai siswa, materi ajar yang akan disajikan, dan cara yang digunakan terus mengemas penyajian materi serta penggunaan bentuk dan jenis penilaian yang akan dipilih untuk melakukan pengukuran terhadap ketercapaian tujuan pembelajaran atau kompetensi yang telah dimiliki siswa.
Berkaitan dengan cara atau metode apa yang akan dipilih dan digunakan dalam kegiatan pembelajaran, seorang guru harus terlebih dahulu memahami berbagai pendekatan, strategi, teknik, dan model pembelajaran. Pemahaman tentang hal ini akan memberikan tuntutan kepada guru untuk dapat memilah, memilih, dan menetapkan dengan tepat metode pembelajaran yang akan digunakan dalam pembelajaran.
Perlu dipahami bahwa setiap pendekatan pembelajaran memiliki pandangan yang berbeda tentang konsepsi dan makna pembelajaran, pandangan tentang guru, dan pandangan tentang siswa, perbedaan inilah kemudian mengakibatkan strategi dan model pembelajaran yang dikembangkan menjadi berbeda juga, sehingga proses pembelajaran akan berbeda walaupun strategi pembelajaran sama. Makalah ini menekankan model pembelajaran discovery, inquiri, PBL, dan PJBL yang membahas tentang model belajar yang menggunakan masalah sebagai langkah awal dalam mengumpulkan dan mengintegrasikan pengetahuan baru berdasarkan pengalamannya dalam beraktivitas secara nyata.
A. MODEL PEMBELAJARAN
Model pembelajaran merupakan bentuk pembelajaran yang tergambar dari awal sampai akhir yang disajikan secara khas oleh pendidik di kelas. Dalam model pembelajaran terdapat strategi pencapaian kompetensi peserta didik dengan pendekatan, metode, dan teknik pembelajaran. Metode pembelajaran adalah prosedur, urutan, langkah-langkah, dan cara yang digunakan pendidik dalam pencapaian tujuan pembelajaran. Dapat dikatakan bahwa metode pembelajaran merupakan suatu penjelasan dari pendekatan. Suatu pendekatan dapat dijabarkan ke dalam berbagai metode pembelajaran. Metode adalah prosedur pembelajaran yang difokuskan ke pencapaian tujuan. Dari metode, teknik pembelajaran dilakukan secara aplikatif, nyata, dan praktis saat pembelajaran berlangsung di kelas. Model pembelajaran merupakan satuan dari penerapan pendekatan, metode, dan teknik pembelajaran.
B. MODEL PEMBELAJARAN KHAS SAINS
1. Model pembelajaran discovery
Penemuan adalah terjemahan dari discovery. Menurut Sund ”discovery adalah proses mental dimana siswa mampu mengasimilasikan sesuatu konsep atau prinsip”. Proses mental tersebut ialah, membuat kesimpulan dan sebagainya. Sedangkan menurut Jerome Bruner ”penemuan adalah suatu proses, suatu jalan/cara dalam mendekati permasalahan bukannya suatu produk atau item pengetahuan tertentu”. Dengan demikian di dalam pandangan Bruner, belajar dengan penemuan adalah belajar untuk menemukan, dimana seorang siswa dihadapkan dengan suatu masalah atau situasi yang tampaknya ganjil mengamati, mencerna, mengerti, mengolong-golongkan, membuat dugaan, menjelaskan, mengukur sehingga siswa dapat mencari jalan pemecahan.
Model penemuan terbimbing menempatkan guru sebagai fasilitator. Guru membimbing siswa dimana ia diperlukan. Dalam model ini, siswa didorong untuk berpikir sendiri, menganalisis sendiri sehingga dapat ”menemukan” prinsip umum berdasarkan bahan atau data yang telah disediakan guru. Model penemuan terbimbing atau terpimpin adalah model pembelajaran penemuan yang dalam pelaksanaanya dilakukan oleh siswa berdasarkan petunjuk-petunjuk guru. Petunjuk diberikan pada umumnya berbentuk pertanyaan membimbing.
1.1 Langkah-langkah Model Pembelajaran Penemuan Terbimbing
Agar pelaksanaan model pembelajaran penemuan terbimbing ini berjalan dengan efektif, beberapa langkah yang mesti ditempuh oleh guru matematika adalah sebagai berikut :
1. Merumuskan masalah yang akan diberikan kepada siswa dengan data secukupnya, perumusannya harus jelas, hindari pernyataan yang menimbulkan salah tafsir sehingga arah yang ditempuh siswa tidak salah.
2. Dari data yang diberikan guru, siswa menyusun, memproses, mengorganisir, dan menganalisis data tersebut. Dalam hal ini, bimbingan guru dapat diberikan sejauh yang diperlukan saja. Bimbingan ini sebaiknya mengarahkan siswa untuk melangkah ke arah yang hendak dituju, melalui pertanyaan-pertanyaan, atau LKS.
3. Siswa menyusun konjektur (prakiraan) dari hasil analisis yang dilakukannya.
4. Bila dipandang perlu, konjektur yang telah dibuat siswa tersebut diatas diperiksa oleh guru. Hal ini penting dilakukan untuk meyakinkan kebenaran prakiraan siswa, sehingga akan menuju arah yang hendak dicapai.
5. Apabila telah diperoleh kepastian tentang kebenaran konjektur tersebut, maka verbalisasi konjektur sebaiknya diserahkan juga kepada siswa untuk menyusunya. Disamping itu perlu diingat pula bahwa induksi tidak menjamin 100% kebenaran konjektur.
6. Sesudah siswa menemukan apa yang dicari, hendaknya guru menyediakan soal latihan atau soal tambahan untuk memeriksa apakah hasil penemuan itu benar.
1.2 Kelebihan dan kekurangan Model Pembelajaran Penemuan
Kelebihan dari Model Penemuan Terbimbing adalah sebagai berikut:
a. Siswa dapat berpartisipasi aktif dalam pembelajaran yang disajikan.
b. Menumbuhkan sekaligus menanamkan sikap inquiry (mencari-temukan).
c. Mendukung kemampuan problem solving siswa.
d. Memberikan wahana interaksi antar siswa, maupun siswa dengan guru, dengan demikian siswa juga terlatih untuk menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar.
e. Materi yang dipelajari dapat mencapai tingkat kemampuan yang tinggi dan lebih lama membekas karena siswa dilibatkan dalam proses menemukanya.
f. Siswa belajar bagaimana belajar (learn how to learn).
g. Belajar menghargai diri sendiri.
h. Memotivasi diri dan lebih mudah untuk mentransfer.
i. Pengetahuan bertahan lama dan mudah diingat.
j. Hasil belajar discovery mempunyai efek transfer yang lebih baik dari pada hasil lainnya
k. Meningkatkan penalaran siswa dan kemampuan untuk berpikir bebas.
l. Melatih keterampilan-keterampilan kognitif siswa untuk menemukan dan memecahkan masalah tanpa pertolongan orang lain.
Sementara itu kekurangannya adalah sebagai berikut :
a. Untuk materi tertentu, waktu yang tersita lebih lama.
b. Tidak semua siswa dapat mengikuti pelajaran dengan cara ini. Di lapangan, beberapa siswa masih terbiasa dan mudah mengerti dengan model ceramah.
c. Tidak semua topik cocok disampaikan dengan model ini. Umumnya topik-topik yang berhubungan dengan prinsip dapat dikembangkan dengan Model Penemuan Terbimbing.
2. Model pembelajaran Inquiri
Kata inquiri barasal dari bahasa inggris “inquiry” berarti pertanyaan, pemeriksaan, atau penyelidikan. Model pembelajaran inquiri adalah rangkaian kegiatan pembelajaran yang menekankan pada proses berpikir secara kritis dan analitis untuk mencari dan menemukan sendiri jawaban dari suatu masalah yang di pertanyakan . proses berpikir itu sendiri biasanya dilakukan melalui tanya jawab antara guru dan siswa. Menurut Piaget bahwa model pembelajaran inquiri adalah model pembelajaran yang mempersiapkan siswa pada situasi untuk melakukan eksperimen sendiri: dalam arti luas ingin melihat apa yang terjadi, atau ingin melakukan sesuatu, ingin menggunakan simbol-simbol dan mencari jawaban atas pertanyaan sendiri, menghubungkan penemuan yang satu dengan penemuan yang lain, dan membandingkan apa yang di temukan dengan yang di temukan orang lain.
1.1. Langkah-langkah pendekatan inquiri
Sesuai dengan pokok bahasan yang telah di uraikan diatas,maka langkah-langkah yang di tempuh dalam pembelajaran dengan menggunakan model inquiri adalah;
1. Orientasi
2. Langkah orientasi adalah langkah untuk membina suasana atau iklim pembelajaran yang responsif. Pada langkah ini guru mengondisikan agar siswa tiap melaksanakan proses pembelajaran. Berbeda dengan tahapan preparation dalam pembelajaran ekspositori (SPE) sebagai langkah untuk mengondisikan agar siswa siswa siap menerima pelajaran, pada langkah orientasi dalam SPI, guru merangsang dan mengajak siswa untuk berpikir memecahkan masalah. Langkah orientasi merupakan langkah yang snagta penting. Keberhasilan sangat bergantung pada kemauan siswa untuk beraktivitas menggunakan kemampuannya dalam mememcahkan masalah,tanpa kemauan dan kemampuan itu tidak akan mungkin proses pembeljaran akan berjalan lancar.
3. Merumuskan masalah
Merumuskan masalah merupakan langkah membawa siswa pada suatu persoalan yang mengandung teka teki. Persoalan yang di sajikan adalah persoalan yang menantang siswa untuk berpikir memecahkan teka-teki itu. Dikatakan teka-teki dalam rumusan masalah yang ingin dikaji disebabkan masalah itu tentu ada jawabany, dan siswa di dorong untuk mencari jawaban yang tepat. Proses mencari jawaban itulah yang sangat penting dalam model pembelajaran inquiri ini, oleh sebab itu melalui proses tersebut siswa akan memperoleh pengalaman yang sangat berharga sebagai upaya mengembangkan mental melalui proses berpikir.
4. Merumuskan Hipotesis
Hipotesis adalah jawaban sementara dari suatu permasalahan yang sedang di kaji. Sebagai jawaban sementara, hipotesis perlu diuji kebenarannya. Salah satu cara dapat dilakukan guru untuk mengembangkan kemampuan menebak (berhipotesis) pada setiap anak adalah dengan mengajukan berbagai pertanyaaan yang dapat mendorong siswa untuk dapat merumuskan jawaban sementara atau dapat merumuskan berbagai perkiraan kemungkinan jawaban dari suatu permasalahan yang dikaji. Perkiraan sebagai hipotesis bukan sembarang perkiraan,t etapi harus memiliki landasan berpikir yang kokoh,sehingga hipotesis yang di munculkan itu bersifat rasional dan logis.
5. Mengumpulkan data
Mengumpulkan data adalah aktivitas menjaring informasi yang dibutuhkan untuk menguji hipotesis yang diajukan.dalam strategi pembelajaran inquiri, mengumpulkan data merupakan proses yang sangat penting dalam pengembangan intelektual.
6. Menguji hipotesis
Menguji hipotesis adalah proses menentukan jawaban yang dianggap diterima sesuai dengan data atau informasi yang di peroleh berdasarkan pengumpulan data. Yang terpenting dalam menguji hipotesis adalah mencari tingkat keyakinan siswa atas jawaban yang diberikan. Disamping itu, menguji hipotesis juga berarti mengembangkan kemampuan berpikir rasional. Artinya kebenaran jawaban yang diberikan bukan hanya berdasarkan argumentasi, akan tetapi harus di dukung oleh data yang di temukan dan dapat di pertangung jawabkan.
7. Merumuskan kesimpulan
Merumuskan kesimpulan adalah prose smendeskrisikan temuan yang diperoleh berdasarkan hasil pengujian hipotesis. Merumuskan kesimpulan merupakan proses pembelajaran. Sering,terjadi oleh karena banyaknya data yang di peroleh,menyebabkan kesimpulan yang dirumuskan tidak fokus terhadap masalah yang endak dipecahkan. Oleh karena itu, untuk mencapai kesimpulan yang akurat sebaiknya guru mampu menunjukkan pada siswa data yang mana yang relevan.
1.2. Keunggulan dan kelemahan model pembelajaran inquiri
Model pembelajaran inquiri merupakan model pembelajaran yang banayak diajarkan, karena model ini memiliki berberapa keunggulan, diantaranya :
a. Model pembelajaran inquiri ini merupakan model pembelajran yang menekankan kepada pengembangan aspek kognitif,afektif, dan psikomotor secara seimbang, sehingga pembelajaran melalui strategi ini di anggap lebih bermakna.
b. Model pembelajaran inquiri ini dapat memberikan ruang kepada siswa untuk belajar sesuia dengan gaya belajar mereka.
c. Model pembelajaran inquiri ini merupakan model yang dianggap sesuai dengan perkemban psikologi belajar modren yang mengangap belajar adalah prose perubahan tingkah laku berkat adanya pengalaman.
d. Keuntungan lainya adalah, model pembelajaran ini dpat melayani kebutuhan siswa yang memiliki kemampuan belajar bagus tidak akan terhambat oleh siswa yang lemah dalam belajar.
Disamping memiliki keunggulan model pembelajaran inquiri ini juga memiliki kelemahan, diantaranya :
a. Jika model pembeljaran inquiri ini digunakan sebagai model pembelajaran, maka akan sulit mengontrol kegiatan dan keberhasilan siswa.
b. Model pembeljaran ini juga sulit dalam merencanakan pembelajaran dikarenakan terbentur dengan kebiasaan siswa dalam belajar.
c. Kadan-kadang dalam mengimplementasikannya, memerlukan waktu yang panjang sehingga sering guru sulit menyesuaikannya dengan waktu yang telah di tentukan.
d. Selama kriteria keberhasilan belajar ditentukan oleh kemampuan siswa menguasai materi pelajaran, maka model pembelajaran inquiri ini akan sulit di implementasikan oleh setiap guru.
3. Model Pembelajaran Berbasis Masalah (PBL, Problem Based Learning)
Model pembelajaran berbasis masalah ini erat kaitannya dengan pendekatan kontekstual. Esensi dari pembelajaran berbasis masalah adalah model pembelajaran yang berlandaskan konstruktivisme dan mengakomodasikan keterlibatan peserta didik dalam belajar serta terlibat dalam pemecahan masalah yang kontekstual. Untuk memperoleh informasi dan mengembangkan konsep-konsep sains, peserta didik belajar tentang bagaimana membangun kerangka masalah, menyusun fakta, menganalisis data, dan menyusun argumentasi terkait pemecahan masalah, kemudian memecahkan masalah, baik secara individual maupun dalam kelompok.
Model pembelajaran berbasis masalah dirancang untuk mencapai tujuan seperti meningkatkan keterampilan intelektual dan penyelidikan, memahami peran orang tua, dan membantu peserta didik memiliki keterampilan mandiri. Berbagai cara dapat dilakukan untuk menciptakan pembelajaran berbasis masalah yang berkaitan dengan mata pelajaran di sekolah, proses pembelajaran tidak mesti dikerjakan di dalam kelas. Peserta didik dapat membangun pengetahuannya melalui interaksi sosial. Yamin (2012) Kehidupan masyarakat di sekitar peserta didik dapat mengembangkan pengetahuan, akan tetapi guru selalu memberikan tagihan kepada peserta didik agar keingintahuan peserta didik tinggi. Pembelajaran seperti ini akan menciptakan peserta didik yang dewasa dalam berpikir. Kematangan berpikir ini sangat dipengaruhi oleh pengalaman dan lingkungan.
Ada lima gambaran yang umum menjadi identifikasi pembelajaran berbasis masalah, yaitu:
1. Dikembangkan dari pertanyaan atau masalah. Daripada mengorganisasikan pelajaran di seputar prinsip-prinsip atau kecakapan akademik tertentu, PBL mengorganisasikan pengajaran pada sejumlah pertanyaan atau masalah yang penting, yang baik secara sosial maupun personal bermakna bagi peserta didik. Pendekatan ini mengaitkan pembelajaran dengan situasi kehidupan nyata.
2. Fokusnya antardisiplin. Walau PBL dapat diterapkan memusat untuk membahas subjek tertentu (sains, matematika, sejarah, atau lainnya), tetapi lebih dipilih pembahasan masalah aktual yang dapat diinvestigasi dari berbagai sudut disiplin ilmu.
3. Penyelidikan otentik. Istilah otentik selalu dikaitkan dengan masalah yang timbul di kehidupan nyata, yang langsung dapat diamati. Oleh karena itu, masalah yang timbul juga harus dicarikan penyelesaian secara nyata. Para peserta didik harus menganalisis dan mendefinisikan masalahnya, mengembangkan hipotesis dan membuat prediksi, mengumpulkan dan menganalisis informasi, bila perlu melaksanakan eksperimen, membuat inferensi dan menarik kesimpulan. Metode investigasinya tentu saja bergantung pada sifat-sifat masalah yang dikaji.
4. Menghasilkan produk berupa laporan, makalah, model fisik, video, suatu program komputer, atau naskah.
5. Ada kolaborasi. Implementasi PBL ditandai oleh adanya kerja sama antar peserta didik satu sama lain, biasanya dalam pasangan peserta didik atau kelompok kecil peserta didik. Bekerja sama akan memberikan motivasi untuk terlibat secara berkelanjutan dalam tugas-tugas yang kompleks, meningkatkan kesempatan untuk saling bertukar pikiran dan mengembangkan inkuiri, serta melakukan dialog untuk mengembangkan kecakapan sosial.
Model pembelajaran berbasis masalah dapat berkembang jika terbangun suatu situasi kelas yang efektif. Karakteristik yang harus dipenuhi agar terbangun situasi kelas yang efektif dalam model pembelajaran berbasis masalah sebagai berikut:
1. Suasana kelas harus dapat memfasilitasi suatu eksplorasi makna. Para peserta didik harus merasa aman dan merasa diterima. Mereka memerlukan pemahaman baik tentang risiko maupun penghargaan yang akan diperolehnya dari pencarian pengetahuan dan pemahaman. Situasi kelas harus mampu menyediakan kesempatan bagi mereka untuk terlibat, saling berinteraksi, dan sosialisasi.
2. Peserta didik harus sering diberi kesempatan untuk mengkonfrontasikan informasi baru dengan pengalamannya selama proses pencarian makna. Namun kesempatan semacam itu janganlah timbul dari dominasi guru selama pembelajaran, tetapi harus timbul dari banyaknya kesempatan peserta didik untuk menghadapi tantangan-tantangan baru berdasarkan pengalaman masa lalunya.
3. Makna baru tersebut harus diperoleh melalui proses penemuan secara personal.
Model pembelajaran berbasis masalah merupakan tipe pengelolaan kelas yang diperlukan untuk mendukung pendekatan konstruktivisme dalam pengajaran dan belajar. Pembelajaran perlu suatu proses yang dapat digunakan untuk mendesain pengalaman pembelajaran berbasis masalah bagi peserta didik.
Kegiatan-kegiatan tersebut diperlukan untuk menunjang proses tersebut sebagai berikut:
1. Identifikasikan suatu masalah yang cocok bagi para peserta didik.
2. Kaitkan masalah tersebut dengan konteks dunia peserta didik sehingga mereka dapat menghadirkan suatu kesempatan otentik.
3. Organisasikan pokok bahasan di sekitar masalah.
4. Berilah para peserta didik tanggungjawab untuk dapat mendefinisikan sendiri pengalaman belajar mereka serta membuat perencanaan dalam menyelesaikan masalah.
5. Dorong timbulnya kolaborasi dengan membentuk kelompok pembelajaran.
6. Berikan dukungan kepada semua peserta didik untuk mendemonstrasikan hasil-hasil pembelajaran mereka misalnya dalam bentuk suatu karya atau kinerja tertentu. Sumber lain mengungkapkan bahwa kewajiban guru dalam penerapan model Sintaks dalam model pembelajaran berbasis masalah meliputi (Warsono dan Hariyanto, 2012):
1. Orientasi peserta didik kepada masalah.
Guru menjelaskan tujuan pembelajaran, menguraikan kebutuhan logistik (bahan dan alat) yang diperlukan bagi pemecahan masalah, memotivasi peserta didik untuk terlibat dalam aktivitas pemecahan masalah yang telah dipilih peserta didik bersama guru, maupun yang dipilih sendiri oleh peserta didik.
2. Mendefinisikan masalah dan mengorganisasikan peserta didik untuk belajar.
membantu peserta didik mendefinisikan dan mengorganisasikan tugas-tugas peserta didik dalam belajar memecahkan masalah, menentukan tema, jadwal, tugas dan lain-lain.
3. Memandu investigasi mandiri maupun investigasi kelompok.
Guru memotivasi peserta didik untuk membuat hipotesis, mengumpulkan informasi, data yang relevan dengan tugas pemecahan masalah, melakukan eksperimen untuk mendapatkan informasi dan pemecahan masalah.
4. Mengembangkan dan mempresentasikan karya.
Guru membantu peserta didik dalam merencanakan dan menyiapkan karya yang relevan, misalnya membuat laporan, membantu berbagi tugas dengan teman-teman di kelompoknya dan lain-lain, kemudian peserta didik mempresentasikan karya sebagai bukti pemecahan masalah.
5. Refleksi dan penilaian.
Guru memandu peserta didik untuk melakukan refleksi, memahami kekuatan dan kelemahan laporan mereka, mencatat dalam ingatan butir-butir atau konsep penting terkait pemecahan masalah, menganalisis dan menilai proses-proses dan hasil akhir dari investigasi masalah. Selanjutnya mempersiapkan penyelidikan lebih lanjut terkait hasil pemecahan masalah.
1.3. Keunggulan dan kelemahan model pembelajaran berbasis massalah
kekuatan dari penerapan model pembelajaran berbasis masalah antara lain:
1. Peserta didik akan terbiasa menghadapi masalah dan merasa tertantang untuk menyelesaikan masalah, tidak hanya terkait dengan pembelajaran dalam kelas, tetapi juga menghadapi masalah yang ada dalam kehidupan sehari-hari.
2. Memupuk solidaritas sosial dengan terbiasa berdiskusi dengan teman-teman sekelompok kemudian berdiskusi dengan teman-teman sekelasnya.
3. Makin mengakrabkan guru dengan peserta didik.
4. Karena ada kemungkinan suatu masalah harus diselesaikan peserta didik melalui eksperimen hal ini juga akan membiasakan peserta didik dalam menerapkan eksperimen.
Sementara itu kelemahan dari penerapan model pembelajaran berbasis masalah antara lain:
1. Tidak banyak guru yang mampu mengantarkan peserta didik kepada pemecahan masalah.
2. Seringkali memerlukan biaya mahal dan waktu yang panjang.
3. Aktivitas peserta didik yang dilaksanakan di luar sekolah sulit dipantau guru.
4. PROJECT BASED LEARNING MODEL (MODEL PEMBELAJARAN BERBASIS PROYEK)
Pembelajaran Berbasis Proyek (Project Based Learning/PjBL) adalah model pembelajaran yang menggunakan proyek/kegiatan sebagai media (Daryanto, 2014) dan merupakan model pembelajaran inovatif yang memfokuskan pada belajar kontekstual melalui kegitan yang kompleks ( CORD dalam Sutirman, 2013).
Kita ketahui pembelajaran di Indonesia pada saat ini masih dominan dengan pembelajaran tradisional, oleh karena itu pembelajaran berbasis proyek dapat digunakan untuk mengubah kelas tradisional (Sutirman, 2013) yang umumnya bercirikan praktik kelas yang berdurasi pendek dan aktivitas pembelajaran berpusat pada guru (Sutirman, 2013). Pembelajaran berbasis proyek didasarkan pada teori kontruktivisme dan merupakan pembelajaran siswa aktif.
Beberapa prinsip pembelajaran berbasis proyek menurut Kurniasih dan Sani (2014), sbb:
1) Pembelajaran berpusat pada peserta didik yang melibatkan tugas-tugas pada kehidupan nyata untuk memperkaya pelajaran
2) Tugas proyek menekankan pada kegiatan penelitian berdasarkan suatu tema atau topik yang telah ditentukan dalam pelajaran
3) Penyelidikan atau eksperimen dilakukan secara otentik dan menghasilkan produk nyata yang telah dianalisis dan dikembangkan berdasarkan tema/topik yang disusun dalam bentuk produk (laporan atau hasil karya).
1.1. Langkah-langkah Model Pembelajaran Penemuan Terbimbing
Menurut Sani (2014) perencanaan PjBL harus mencakup empat langkah harus mencakup langkah penting berikut ini:
1. Pengelompokkan siswa untuk mengerjakan sebuah proyek
2. Mengajukan pertanyaan kompleks dan mengarahkan untuk mengerjakannya
3. Membuat rancangan, jadwal perencanaan penyelesaian proyek, serta mempersentasikan proyek
4. Memberikan umpan balik dan penilaian atas proyek yang telah dibuat.
Selain itu, menurut Sani (2014) penerapan pembelajaran berbasis proyek harus dimulai dari perencanaan pembelajaran yang memadai, yakni dengan mengikuti tahapan sebagai berikut;
1. Menentukan materi proyek
2. Menentukan tujuan proyek
3. Mengidentifikasi keterampilan
4. dan pengetahuan awal siswa yang dibutuhkan untuk melaksanakan proyek
5. Menentukan kelompok belajar
6. Menentukan jadwal pelaksanaan proyek
7. Mengevaluasi sumber daya dan meterial yang akan digunakan
8. Menentukan cara evaluasi yang akan digunakan.
Secara umum tahap pembelajaran berbasis proyek menurut Sani (2014). digambarkan sebagai berikut:
1.2. Kelebihan Pembelajaran Berbasis Proyek
Terdapat beberapa kelebihan/keutamaan pembelajaran berbasis proyek seperti yang dikemukakan beberapa sumber, sebagai berikut:
Menurut Sani (2014) beberapa keutamaan yang diperoleh dengan menerapkan PjBL, yaitu;
1. Melibatkan siswa dalam permasalahan dunia nyata
2. Membutuhkan proses inkuiri, penelitian, keterampilan merencanakan, berpikir kritis, dan keterampilan menyelesaikan masalah dalam upaya membuat proyek
3. Melibatkan siswa dalam belajar menerapkan pengetahuan dan keterampilan
4. Memberikan kesempatan kepada siswa untuk melatih keterampilan interpersonal
5. Memberikan kesempatan kepada siswa untuk melatih keterampilan yang dibutuhkan untuk hidup dan bekerja (mengalokasikan waktu, bertanggung jawab, belajar melalui pengalaman, dan sebagainya)
6. Mencakup aktivitas refleksi yang mengarahkan siswa untuk berpikir kritis tentang pengalaman dan menghubungkan pengalaman tersebut pada standar belajar.
Selain itu, beberapa keuntungan lain menggunakan pembelajaran berbasis proyek menurut Sani (2014) adalah sbb:
1. Meningkatkan motivasi siswa untuk belajar dan mendorong mereka untuk melakukan pekerjaan penting
2. Meningkatkan kemampuan siswa dalam menyelesaikan masalah yang kompleks
3. Membuat siswa lebih aktif
4. Meningkatkan kemampuan siswa dalam bekerja sama
5. Mendorong siswa mempraktikkan keterampilan berkomunikasi
6. Meningkatkatkan kemampuan siswa dalam mengelola sumber daya
7. Memberi pengalaman kepada siswa
8. Memberikan kesempatan belajar bagi siswa untuk berkembang sesuai kondisi dunia nyata
9. Melibatkan siswa untuk belajar mengumpulkan informasi dan menerapkan pengetahuan tersebut untuk menyelesaikan permasalahan di dunia nyata
10. Membuat suasana belajar menjadi menyenangkan.
Beberapa kelemahan pembelajaran berbasis proyek menurut Daryanto, (2014) adalah:
1. Memerlukan banyak waktu untuk menyelesaikan masalah
2. Membutuhkan biaya yang cukup banyak
3. Banyak guru yang merasa nyaman dengan kelas tradisional, dimana guru memegang peran utama di kelas
4. Banyak peralatan yang harus disediakan
5. Peserta didik yang memiliki kelemahan dalam percobaan dan pengumpulan informasi akan mengalami kesulitan
6. Ada kemungkinan peserta didik yang kurang aktif dalam kerja kelompok
7. Ketika topik yang diberikan kepada masing-masing kelompok berbeda, dikhawatirkan peserta didik tidak bisa memahami topik secara keseluruhan.
Berdasarkan ulasan materi tentang model-model pembelajaran khas sain diatas. Berikut pertanyaan yang diajukan:
1. Apakah sajakah acuan-acuan yang harus diketahui seorang pendidik dalam menerapkan model pembelajaran sains di sekolah?
2. Menurut anda apa arti pentingnya diterapkan model pembelajaran sains di sekolah-sekolah di Indonesia?
3. Menurut pendapat anda apakah tenaga pendidik di daerah anda sudah memiliki kompetensi dalam melaksanakan model pembelajaran sain ? (jika iya/tidak berikan alasan)
Pembelajaran suatu kegiatan yang dirancang oleh guru agar siswa melakukan kegiatan belajar untuk mencapai tujuan atau kompetensi yang diharapkan. Dalam merancang kegiatan pembelajaran ini, seorang guru semestinya memahami karakteristik siswa, tujuan pembelajran yang ingin dicapai atau kompetensi yang harus dikuasai siswa, materi ajar yang akan disajikan, dan cara yang digunakan terus mengemas penyajian materi serta penggunaan bentuk dan jenis penilaian yang akan dipilih untuk melakukan pengukuran terhadap ketercapaian tujuan pembelajaran atau kompetensi yang telah dimiliki siswa.
Berkaitan dengan cara atau metode apa yang akan dipilih dan digunakan dalam kegiatan pembelajaran, seorang guru harus terlebih dahulu memahami berbagai pendekatan, strategi, teknik, dan model pembelajaran. Pemahaman tentang hal ini akan memberikan tuntutan kepada guru untuk dapat memilah, memilih, dan menetapkan dengan tepat metode pembelajaran yang akan digunakan dalam pembelajaran.
Perlu dipahami bahwa setiap pendekatan pembelajaran memiliki pandangan yang berbeda tentang konsepsi dan makna pembelajaran, pandangan tentang guru, dan pandangan tentang siswa, perbedaan inilah kemudian mengakibatkan strategi dan model pembelajaran yang dikembangkan menjadi berbeda juga, sehingga proses pembelajaran akan berbeda walaupun strategi pembelajaran sama. Makalah ini menekankan model pembelajaran discovery, inquiri, PBL, dan PJBL yang membahas tentang model belajar yang menggunakan masalah sebagai langkah awal dalam mengumpulkan dan mengintegrasikan pengetahuan baru berdasarkan pengalamannya dalam beraktivitas secara nyata.
A. MODEL PEMBELAJARAN
Model pembelajaran merupakan bentuk pembelajaran yang tergambar dari awal sampai akhir yang disajikan secara khas oleh pendidik di kelas. Dalam model pembelajaran terdapat strategi pencapaian kompetensi peserta didik dengan pendekatan, metode, dan teknik pembelajaran. Metode pembelajaran adalah prosedur, urutan, langkah-langkah, dan cara yang digunakan pendidik dalam pencapaian tujuan pembelajaran. Dapat dikatakan bahwa metode pembelajaran merupakan suatu penjelasan dari pendekatan. Suatu pendekatan dapat dijabarkan ke dalam berbagai metode pembelajaran. Metode adalah prosedur pembelajaran yang difokuskan ke pencapaian tujuan. Dari metode, teknik pembelajaran dilakukan secara aplikatif, nyata, dan praktis saat pembelajaran berlangsung di kelas. Model pembelajaran merupakan satuan dari penerapan pendekatan, metode, dan teknik pembelajaran.
B. MODEL PEMBELAJARAN KHAS SAINS
1. Model pembelajaran discovery
Penemuan adalah terjemahan dari discovery. Menurut Sund ”discovery adalah proses mental dimana siswa mampu mengasimilasikan sesuatu konsep atau prinsip”. Proses mental tersebut ialah, membuat kesimpulan dan sebagainya. Sedangkan menurut Jerome Bruner ”penemuan adalah suatu proses, suatu jalan/cara dalam mendekati permasalahan bukannya suatu produk atau item pengetahuan tertentu”. Dengan demikian di dalam pandangan Bruner, belajar dengan penemuan adalah belajar untuk menemukan, dimana seorang siswa dihadapkan dengan suatu masalah atau situasi yang tampaknya ganjil mengamati, mencerna, mengerti, mengolong-golongkan, membuat dugaan, menjelaskan, mengukur sehingga siswa dapat mencari jalan pemecahan.
Model penemuan terbimbing menempatkan guru sebagai fasilitator. Guru membimbing siswa dimana ia diperlukan. Dalam model ini, siswa didorong untuk berpikir sendiri, menganalisis sendiri sehingga dapat ”menemukan” prinsip umum berdasarkan bahan atau data yang telah disediakan guru. Model penemuan terbimbing atau terpimpin adalah model pembelajaran penemuan yang dalam pelaksanaanya dilakukan oleh siswa berdasarkan petunjuk-petunjuk guru. Petunjuk diberikan pada umumnya berbentuk pertanyaan membimbing.
1.1 Langkah-langkah Model Pembelajaran Penemuan Terbimbing
Agar pelaksanaan model pembelajaran penemuan terbimbing ini berjalan dengan efektif, beberapa langkah yang mesti ditempuh oleh guru matematika adalah sebagai berikut :
1. Merumuskan masalah yang akan diberikan kepada siswa dengan data secukupnya, perumusannya harus jelas, hindari pernyataan yang menimbulkan salah tafsir sehingga arah yang ditempuh siswa tidak salah.
2. Dari data yang diberikan guru, siswa menyusun, memproses, mengorganisir, dan menganalisis data tersebut. Dalam hal ini, bimbingan guru dapat diberikan sejauh yang diperlukan saja. Bimbingan ini sebaiknya mengarahkan siswa untuk melangkah ke arah yang hendak dituju, melalui pertanyaan-pertanyaan, atau LKS.
3. Siswa menyusun konjektur (prakiraan) dari hasil analisis yang dilakukannya.
4. Bila dipandang perlu, konjektur yang telah dibuat siswa tersebut diatas diperiksa oleh guru. Hal ini penting dilakukan untuk meyakinkan kebenaran prakiraan siswa, sehingga akan menuju arah yang hendak dicapai.
5. Apabila telah diperoleh kepastian tentang kebenaran konjektur tersebut, maka verbalisasi konjektur sebaiknya diserahkan juga kepada siswa untuk menyusunya. Disamping itu perlu diingat pula bahwa induksi tidak menjamin 100% kebenaran konjektur.
6. Sesudah siswa menemukan apa yang dicari, hendaknya guru menyediakan soal latihan atau soal tambahan untuk memeriksa apakah hasil penemuan itu benar.
1.2 Kelebihan dan kekurangan Model Pembelajaran Penemuan
Kelebihan dari Model Penemuan Terbimbing adalah sebagai berikut:
a. Siswa dapat berpartisipasi aktif dalam pembelajaran yang disajikan.
b. Menumbuhkan sekaligus menanamkan sikap inquiry (mencari-temukan).
c. Mendukung kemampuan problem solving siswa.
d. Memberikan wahana interaksi antar siswa, maupun siswa dengan guru, dengan demikian siswa juga terlatih untuk menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar.
e. Materi yang dipelajari dapat mencapai tingkat kemampuan yang tinggi dan lebih lama membekas karena siswa dilibatkan dalam proses menemukanya.
f. Siswa belajar bagaimana belajar (learn how to learn).
g. Belajar menghargai diri sendiri.
h. Memotivasi diri dan lebih mudah untuk mentransfer.
i. Pengetahuan bertahan lama dan mudah diingat.
j. Hasil belajar discovery mempunyai efek transfer yang lebih baik dari pada hasil lainnya
k. Meningkatkan penalaran siswa dan kemampuan untuk berpikir bebas.
l. Melatih keterampilan-keterampilan kognitif siswa untuk menemukan dan memecahkan masalah tanpa pertolongan orang lain.
Sementara itu kekurangannya adalah sebagai berikut :
a. Untuk materi tertentu, waktu yang tersita lebih lama.
b. Tidak semua siswa dapat mengikuti pelajaran dengan cara ini. Di lapangan, beberapa siswa masih terbiasa dan mudah mengerti dengan model ceramah.
c. Tidak semua topik cocok disampaikan dengan model ini. Umumnya topik-topik yang berhubungan dengan prinsip dapat dikembangkan dengan Model Penemuan Terbimbing.
2. Model pembelajaran Inquiri
Kata inquiri barasal dari bahasa inggris “inquiry” berarti pertanyaan, pemeriksaan, atau penyelidikan. Model pembelajaran inquiri adalah rangkaian kegiatan pembelajaran yang menekankan pada proses berpikir secara kritis dan analitis untuk mencari dan menemukan sendiri jawaban dari suatu masalah yang di pertanyakan . proses berpikir itu sendiri biasanya dilakukan melalui tanya jawab antara guru dan siswa. Menurut Piaget bahwa model pembelajaran inquiri adalah model pembelajaran yang mempersiapkan siswa pada situasi untuk melakukan eksperimen sendiri: dalam arti luas ingin melihat apa yang terjadi, atau ingin melakukan sesuatu, ingin menggunakan simbol-simbol dan mencari jawaban atas pertanyaan sendiri, menghubungkan penemuan yang satu dengan penemuan yang lain, dan membandingkan apa yang di temukan dengan yang di temukan orang lain.
1.1. Langkah-langkah pendekatan inquiri
Sesuai dengan pokok bahasan yang telah di uraikan diatas,maka langkah-langkah yang di tempuh dalam pembelajaran dengan menggunakan model inquiri adalah;
1. Orientasi
2. Langkah orientasi adalah langkah untuk membina suasana atau iklim pembelajaran yang responsif. Pada langkah ini guru mengondisikan agar siswa tiap melaksanakan proses pembelajaran. Berbeda dengan tahapan preparation dalam pembelajaran ekspositori (SPE) sebagai langkah untuk mengondisikan agar siswa siswa siap menerima pelajaran, pada langkah orientasi dalam SPI, guru merangsang dan mengajak siswa untuk berpikir memecahkan masalah. Langkah orientasi merupakan langkah yang snagta penting. Keberhasilan sangat bergantung pada kemauan siswa untuk beraktivitas menggunakan kemampuannya dalam mememcahkan masalah,tanpa kemauan dan kemampuan itu tidak akan mungkin proses pembeljaran akan berjalan lancar.
3. Merumuskan masalah
Merumuskan masalah merupakan langkah membawa siswa pada suatu persoalan yang mengandung teka teki. Persoalan yang di sajikan adalah persoalan yang menantang siswa untuk berpikir memecahkan teka-teki itu. Dikatakan teka-teki dalam rumusan masalah yang ingin dikaji disebabkan masalah itu tentu ada jawabany, dan siswa di dorong untuk mencari jawaban yang tepat. Proses mencari jawaban itulah yang sangat penting dalam model pembelajaran inquiri ini, oleh sebab itu melalui proses tersebut siswa akan memperoleh pengalaman yang sangat berharga sebagai upaya mengembangkan mental melalui proses berpikir.
4. Merumuskan Hipotesis
Hipotesis adalah jawaban sementara dari suatu permasalahan yang sedang di kaji. Sebagai jawaban sementara, hipotesis perlu diuji kebenarannya. Salah satu cara dapat dilakukan guru untuk mengembangkan kemampuan menebak (berhipotesis) pada setiap anak adalah dengan mengajukan berbagai pertanyaaan yang dapat mendorong siswa untuk dapat merumuskan jawaban sementara atau dapat merumuskan berbagai perkiraan kemungkinan jawaban dari suatu permasalahan yang dikaji. Perkiraan sebagai hipotesis bukan sembarang perkiraan,t etapi harus memiliki landasan berpikir yang kokoh,sehingga hipotesis yang di munculkan itu bersifat rasional dan logis.
5. Mengumpulkan data
Mengumpulkan data adalah aktivitas menjaring informasi yang dibutuhkan untuk menguji hipotesis yang diajukan.dalam strategi pembelajaran inquiri, mengumpulkan data merupakan proses yang sangat penting dalam pengembangan intelektual.
6. Menguji hipotesis
Menguji hipotesis adalah proses menentukan jawaban yang dianggap diterima sesuai dengan data atau informasi yang di peroleh berdasarkan pengumpulan data. Yang terpenting dalam menguji hipotesis adalah mencari tingkat keyakinan siswa atas jawaban yang diberikan. Disamping itu, menguji hipotesis juga berarti mengembangkan kemampuan berpikir rasional. Artinya kebenaran jawaban yang diberikan bukan hanya berdasarkan argumentasi, akan tetapi harus di dukung oleh data yang di temukan dan dapat di pertangung jawabkan.
7. Merumuskan kesimpulan
Merumuskan kesimpulan adalah prose smendeskrisikan temuan yang diperoleh berdasarkan hasil pengujian hipotesis. Merumuskan kesimpulan merupakan proses pembelajaran. Sering,terjadi oleh karena banyaknya data yang di peroleh,menyebabkan kesimpulan yang dirumuskan tidak fokus terhadap masalah yang endak dipecahkan. Oleh karena itu, untuk mencapai kesimpulan yang akurat sebaiknya guru mampu menunjukkan pada siswa data yang mana yang relevan.
1.2. Keunggulan dan kelemahan model pembelajaran inquiri
Model pembelajaran inquiri merupakan model pembelajaran yang banayak diajarkan, karena model ini memiliki berberapa keunggulan, diantaranya :
a. Model pembelajaran inquiri ini merupakan model pembelajran yang menekankan kepada pengembangan aspek kognitif,afektif, dan psikomotor secara seimbang, sehingga pembelajaran melalui strategi ini di anggap lebih bermakna.
b. Model pembelajaran inquiri ini dapat memberikan ruang kepada siswa untuk belajar sesuia dengan gaya belajar mereka.
c. Model pembelajaran inquiri ini merupakan model yang dianggap sesuai dengan perkemban psikologi belajar modren yang mengangap belajar adalah prose perubahan tingkah laku berkat adanya pengalaman.
d. Keuntungan lainya adalah, model pembelajaran ini dpat melayani kebutuhan siswa yang memiliki kemampuan belajar bagus tidak akan terhambat oleh siswa yang lemah dalam belajar.
Disamping memiliki keunggulan model pembelajaran inquiri ini juga memiliki kelemahan, diantaranya :
a. Jika model pembeljaran inquiri ini digunakan sebagai model pembelajaran, maka akan sulit mengontrol kegiatan dan keberhasilan siswa.
b. Model pembeljaran ini juga sulit dalam merencanakan pembelajaran dikarenakan terbentur dengan kebiasaan siswa dalam belajar.
c. Kadan-kadang dalam mengimplementasikannya, memerlukan waktu yang panjang sehingga sering guru sulit menyesuaikannya dengan waktu yang telah di tentukan.
d. Selama kriteria keberhasilan belajar ditentukan oleh kemampuan siswa menguasai materi pelajaran, maka model pembelajaran inquiri ini akan sulit di implementasikan oleh setiap guru.
3. Model Pembelajaran Berbasis Masalah (PBL, Problem Based Learning)
Model pembelajaran berbasis masalah ini erat kaitannya dengan pendekatan kontekstual. Esensi dari pembelajaran berbasis masalah adalah model pembelajaran yang berlandaskan konstruktivisme dan mengakomodasikan keterlibatan peserta didik dalam belajar serta terlibat dalam pemecahan masalah yang kontekstual. Untuk memperoleh informasi dan mengembangkan konsep-konsep sains, peserta didik belajar tentang bagaimana membangun kerangka masalah, menyusun fakta, menganalisis data, dan menyusun argumentasi terkait pemecahan masalah, kemudian memecahkan masalah, baik secara individual maupun dalam kelompok.
Model pembelajaran berbasis masalah dirancang untuk mencapai tujuan seperti meningkatkan keterampilan intelektual dan penyelidikan, memahami peran orang tua, dan membantu peserta didik memiliki keterampilan mandiri. Berbagai cara dapat dilakukan untuk menciptakan pembelajaran berbasis masalah yang berkaitan dengan mata pelajaran di sekolah, proses pembelajaran tidak mesti dikerjakan di dalam kelas. Peserta didik dapat membangun pengetahuannya melalui interaksi sosial. Yamin (2012) Kehidupan masyarakat di sekitar peserta didik dapat mengembangkan pengetahuan, akan tetapi guru selalu memberikan tagihan kepada peserta didik agar keingintahuan peserta didik tinggi. Pembelajaran seperti ini akan menciptakan peserta didik yang dewasa dalam berpikir. Kematangan berpikir ini sangat dipengaruhi oleh pengalaman dan lingkungan.
Ada lima gambaran yang umum menjadi identifikasi pembelajaran berbasis masalah, yaitu:
1. Dikembangkan dari pertanyaan atau masalah. Daripada mengorganisasikan pelajaran di seputar prinsip-prinsip atau kecakapan akademik tertentu, PBL mengorganisasikan pengajaran pada sejumlah pertanyaan atau masalah yang penting, yang baik secara sosial maupun personal bermakna bagi peserta didik. Pendekatan ini mengaitkan pembelajaran dengan situasi kehidupan nyata.
2. Fokusnya antardisiplin. Walau PBL dapat diterapkan memusat untuk membahas subjek tertentu (sains, matematika, sejarah, atau lainnya), tetapi lebih dipilih pembahasan masalah aktual yang dapat diinvestigasi dari berbagai sudut disiplin ilmu.
3. Penyelidikan otentik. Istilah otentik selalu dikaitkan dengan masalah yang timbul di kehidupan nyata, yang langsung dapat diamati. Oleh karena itu, masalah yang timbul juga harus dicarikan penyelesaian secara nyata. Para peserta didik harus menganalisis dan mendefinisikan masalahnya, mengembangkan hipotesis dan membuat prediksi, mengumpulkan dan menganalisis informasi, bila perlu melaksanakan eksperimen, membuat inferensi dan menarik kesimpulan. Metode investigasinya tentu saja bergantung pada sifat-sifat masalah yang dikaji.
4. Menghasilkan produk berupa laporan, makalah, model fisik, video, suatu program komputer, atau naskah.
5. Ada kolaborasi. Implementasi PBL ditandai oleh adanya kerja sama antar peserta didik satu sama lain, biasanya dalam pasangan peserta didik atau kelompok kecil peserta didik. Bekerja sama akan memberikan motivasi untuk terlibat secara berkelanjutan dalam tugas-tugas yang kompleks, meningkatkan kesempatan untuk saling bertukar pikiran dan mengembangkan inkuiri, serta melakukan dialog untuk mengembangkan kecakapan sosial.
Model pembelajaran berbasis masalah dapat berkembang jika terbangun suatu situasi kelas yang efektif. Karakteristik yang harus dipenuhi agar terbangun situasi kelas yang efektif dalam model pembelajaran berbasis masalah sebagai berikut:
1. Suasana kelas harus dapat memfasilitasi suatu eksplorasi makna. Para peserta didik harus merasa aman dan merasa diterima. Mereka memerlukan pemahaman baik tentang risiko maupun penghargaan yang akan diperolehnya dari pencarian pengetahuan dan pemahaman. Situasi kelas harus mampu menyediakan kesempatan bagi mereka untuk terlibat, saling berinteraksi, dan sosialisasi.
2. Peserta didik harus sering diberi kesempatan untuk mengkonfrontasikan informasi baru dengan pengalamannya selama proses pencarian makna. Namun kesempatan semacam itu janganlah timbul dari dominasi guru selama pembelajaran, tetapi harus timbul dari banyaknya kesempatan peserta didik untuk menghadapi tantangan-tantangan baru berdasarkan pengalaman masa lalunya.
3. Makna baru tersebut harus diperoleh melalui proses penemuan secara personal.
Model pembelajaran berbasis masalah merupakan tipe pengelolaan kelas yang diperlukan untuk mendukung pendekatan konstruktivisme dalam pengajaran dan belajar. Pembelajaran perlu suatu proses yang dapat digunakan untuk mendesain pengalaman pembelajaran berbasis masalah bagi peserta didik.
Kegiatan-kegiatan tersebut diperlukan untuk menunjang proses tersebut sebagai berikut:
1. Identifikasikan suatu masalah yang cocok bagi para peserta didik.
2. Kaitkan masalah tersebut dengan konteks dunia peserta didik sehingga mereka dapat menghadirkan suatu kesempatan otentik.
3. Organisasikan pokok bahasan di sekitar masalah.
4. Berilah para peserta didik tanggungjawab untuk dapat mendefinisikan sendiri pengalaman belajar mereka serta membuat perencanaan dalam menyelesaikan masalah.
5. Dorong timbulnya kolaborasi dengan membentuk kelompok pembelajaran.
6. Berikan dukungan kepada semua peserta didik untuk mendemonstrasikan hasil-hasil pembelajaran mereka misalnya dalam bentuk suatu karya atau kinerja tertentu. Sumber lain mengungkapkan bahwa kewajiban guru dalam penerapan model Sintaks dalam model pembelajaran berbasis masalah meliputi (Warsono dan Hariyanto, 2012):
1. Orientasi peserta didik kepada masalah.
Guru menjelaskan tujuan pembelajaran, menguraikan kebutuhan logistik (bahan dan alat) yang diperlukan bagi pemecahan masalah, memotivasi peserta didik untuk terlibat dalam aktivitas pemecahan masalah yang telah dipilih peserta didik bersama guru, maupun yang dipilih sendiri oleh peserta didik.
2. Mendefinisikan masalah dan mengorganisasikan peserta didik untuk belajar.
membantu peserta didik mendefinisikan dan mengorganisasikan tugas-tugas peserta didik dalam belajar memecahkan masalah, menentukan tema, jadwal, tugas dan lain-lain.
3. Memandu investigasi mandiri maupun investigasi kelompok.
Guru memotivasi peserta didik untuk membuat hipotesis, mengumpulkan informasi, data yang relevan dengan tugas pemecahan masalah, melakukan eksperimen untuk mendapatkan informasi dan pemecahan masalah.
4. Mengembangkan dan mempresentasikan karya.
Guru membantu peserta didik dalam merencanakan dan menyiapkan karya yang relevan, misalnya membuat laporan, membantu berbagi tugas dengan teman-teman di kelompoknya dan lain-lain, kemudian peserta didik mempresentasikan karya sebagai bukti pemecahan masalah.
5. Refleksi dan penilaian.
Guru memandu peserta didik untuk melakukan refleksi, memahami kekuatan dan kelemahan laporan mereka, mencatat dalam ingatan butir-butir atau konsep penting terkait pemecahan masalah, menganalisis dan menilai proses-proses dan hasil akhir dari investigasi masalah. Selanjutnya mempersiapkan penyelidikan lebih lanjut terkait hasil pemecahan masalah.
1.3. Keunggulan dan kelemahan model pembelajaran berbasis massalah
kekuatan dari penerapan model pembelajaran berbasis masalah antara lain:
1. Peserta didik akan terbiasa menghadapi masalah dan merasa tertantang untuk menyelesaikan masalah, tidak hanya terkait dengan pembelajaran dalam kelas, tetapi juga menghadapi masalah yang ada dalam kehidupan sehari-hari.
2. Memupuk solidaritas sosial dengan terbiasa berdiskusi dengan teman-teman sekelompok kemudian berdiskusi dengan teman-teman sekelasnya.
3. Makin mengakrabkan guru dengan peserta didik.
4. Karena ada kemungkinan suatu masalah harus diselesaikan peserta didik melalui eksperimen hal ini juga akan membiasakan peserta didik dalam menerapkan eksperimen.
Sementara itu kelemahan dari penerapan model pembelajaran berbasis masalah antara lain:
1. Tidak banyak guru yang mampu mengantarkan peserta didik kepada pemecahan masalah.
2. Seringkali memerlukan biaya mahal dan waktu yang panjang.
3. Aktivitas peserta didik yang dilaksanakan di luar sekolah sulit dipantau guru.
4. PROJECT BASED LEARNING MODEL (MODEL PEMBELAJARAN BERBASIS PROYEK)
Pembelajaran Berbasis Proyek (Project Based Learning/PjBL) adalah model pembelajaran yang menggunakan proyek/kegiatan sebagai media (Daryanto, 2014) dan merupakan model pembelajaran inovatif yang memfokuskan pada belajar kontekstual melalui kegitan yang kompleks ( CORD dalam Sutirman, 2013).
Kita ketahui pembelajaran di Indonesia pada saat ini masih dominan dengan pembelajaran tradisional, oleh karena itu pembelajaran berbasis proyek dapat digunakan untuk mengubah kelas tradisional (Sutirman, 2013) yang umumnya bercirikan praktik kelas yang berdurasi pendek dan aktivitas pembelajaran berpusat pada guru (Sutirman, 2013). Pembelajaran berbasis proyek didasarkan pada teori kontruktivisme dan merupakan pembelajaran siswa aktif.
Beberapa prinsip pembelajaran berbasis proyek menurut Kurniasih dan Sani (2014), sbb:
1) Pembelajaran berpusat pada peserta didik yang melibatkan tugas-tugas pada kehidupan nyata untuk memperkaya pelajaran
2) Tugas proyek menekankan pada kegiatan penelitian berdasarkan suatu tema atau topik yang telah ditentukan dalam pelajaran
3) Penyelidikan atau eksperimen dilakukan secara otentik dan menghasilkan produk nyata yang telah dianalisis dan dikembangkan berdasarkan tema/topik yang disusun dalam bentuk produk (laporan atau hasil karya).
1.1. Langkah-langkah Model Pembelajaran Penemuan Terbimbing
Menurut Sani (2014) perencanaan PjBL harus mencakup empat langkah harus mencakup langkah penting berikut ini:
1. Pengelompokkan siswa untuk mengerjakan sebuah proyek
2. Mengajukan pertanyaan kompleks dan mengarahkan untuk mengerjakannya
3. Membuat rancangan, jadwal perencanaan penyelesaian proyek, serta mempersentasikan proyek
4. Memberikan umpan balik dan penilaian atas proyek yang telah dibuat.
Selain itu, menurut Sani (2014) penerapan pembelajaran berbasis proyek harus dimulai dari perencanaan pembelajaran yang memadai, yakni dengan mengikuti tahapan sebagai berikut;
1. Menentukan materi proyek
2. Menentukan tujuan proyek
3. Mengidentifikasi keterampilan
4. dan pengetahuan awal siswa yang dibutuhkan untuk melaksanakan proyek
5. Menentukan kelompok belajar
6. Menentukan jadwal pelaksanaan proyek
7. Mengevaluasi sumber daya dan meterial yang akan digunakan
8. Menentukan cara evaluasi yang akan digunakan.
Secara umum tahap pembelajaran berbasis proyek menurut Sani (2014). digambarkan sebagai berikut:
1.2. Kelebihan Pembelajaran Berbasis Proyek
Terdapat beberapa kelebihan/keutamaan pembelajaran berbasis proyek seperti yang dikemukakan beberapa sumber, sebagai berikut:
Menurut Sani (2014) beberapa keutamaan yang diperoleh dengan menerapkan PjBL, yaitu;
1. Melibatkan siswa dalam permasalahan dunia nyata
2. Membutuhkan proses inkuiri, penelitian, keterampilan merencanakan, berpikir kritis, dan keterampilan menyelesaikan masalah dalam upaya membuat proyek
3. Melibatkan siswa dalam belajar menerapkan pengetahuan dan keterampilan
4. Memberikan kesempatan kepada siswa untuk melatih keterampilan interpersonal
5. Memberikan kesempatan kepada siswa untuk melatih keterampilan yang dibutuhkan untuk hidup dan bekerja (mengalokasikan waktu, bertanggung jawab, belajar melalui pengalaman, dan sebagainya)
6. Mencakup aktivitas refleksi yang mengarahkan siswa untuk berpikir kritis tentang pengalaman dan menghubungkan pengalaman tersebut pada standar belajar.
Selain itu, beberapa keuntungan lain menggunakan pembelajaran berbasis proyek menurut Sani (2014) adalah sbb:
1. Meningkatkan motivasi siswa untuk belajar dan mendorong mereka untuk melakukan pekerjaan penting
2. Meningkatkan kemampuan siswa dalam menyelesaikan masalah yang kompleks
3. Membuat siswa lebih aktif
4. Meningkatkan kemampuan siswa dalam bekerja sama
5. Mendorong siswa mempraktikkan keterampilan berkomunikasi
6. Meningkatkatkan kemampuan siswa dalam mengelola sumber daya
7. Memberi pengalaman kepada siswa
8. Memberikan kesempatan belajar bagi siswa untuk berkembang sesuai kondisi dunia nyata
9. Melibatkan siswa untuk belajar mengumpulkan informasi dan menerapkan pengetahuan tersebut untuk menyelesaikan permasalahan di dunia nyata
10. Membuat suasana belajar menjadi menyenangkan.
Beberapa kelemahan pembelajaran berbasis proyek menurut Daryanto, (2014) adalah:
1. Memerlukan banyak waktu untuk menyelesaikan masalah
2. Membutuhkan biaya yang cukup banyak
3. Banyak guru yang merasa nyaman dengan kelas tradisional, dimana guru memegang peran utama di kelas
4. Banyak peralatan yang harus disediakan
5. Peserta didik yang memiliki kelemahan dalam percobaan dan pengumpulan informasi akan mengalami kesulitan
6. Ada kemungkinan peserta didik yang kurang aktif dalam kerja kelompok
7. Ketika topik yang diberikan kepada masing-masing kelompok berbeda, dikhawatirkan peserta didik tidak bisa memahami topik secara keseluruhan.
Berdasarkan ulasan materi tentang model-model pembelajaran khas sain diatas. Berikut pertanyaan yang diajukan:
1. Apakah sajakah acuan-acuan yang harus diketahui seorang pendidik dalam menerapkan model pembelajaran sains di sekolah?
2. Menurut anda apa arti pentingnya diterapkan model pembelajaran sains di sekolah-sekolah di Indonesia?
3. Menurut pendapat anda apakah tenaga pendidik di daerah anda sudah memiliki kompetensi dalam melaksanakan model pembelajaran sain ? (jika iya/tidak berikan alasan)
Menyikapin pertanyaan no dua.?
BalasHapusmenurut saya Arti penting nya karena Pembelajaran di sekolah melalui pelajaran IPA diharapkan dapat mengembangkan kemampuan siswa menghadapi kemajuan IPTEK dengan literasi sains, berawal dari kurikulum di sekolah. Perubahan kurikulum di Indonesia terjadi karena konsekuensi logis perubahan sistem politik, sosial budaya, ekonomi, dan iptek dalam masyarakat berbangsa dan bernegara. Dapat dikatakan bahwa kurikulum merefleksikan dan merupakan produk pada suatu zaman. Hal ini bisa terlihat ketika mulai terdengar istilah literasi sains untuk menghadapi permasalahan global.
Terimakasih ulasan nya, sangat bermanfaat pak untuk berbagi pengetahuan. Menanggapi pertanyaan terakhir penulis, apakah tenaga pendidik sudah berkompetensi menerapkan model pembelajaran sains? Saya pernah mengajar disalah satu sekolah didaerah saya, disana saya masih menemukan guru yang menerapkan model pembelajaran tertentu namun kurang sesuai dengan sintak model tersebut. Misalnya saja, seorang guru menggunakan model cooperatif tipe STAD, guru mmg membagi kelompok, namun pada penerapannya guru membagi kelompok tidak sama rata tingkat nya.lalu guru tetap saja menggunakan metode ceramah, saat anak berdiskusi guru tidak membimbing dan lainnya.. Jadi guru blm menguasai sepenuhnya penerapan model pembelajaran tersebut. Hanya nama nya saja "belajar dengan menggunakan model X" terimakasih
BalasHapusKomentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapusAssalamualaikum wr.wb
BalasHapusSaya mencoba menanggapi pertanyaan no 2..
Apa arti penting nya diterap kan model pembelajaran sains di sekolah ?
Kalau menurut saya penting nya model pembelajaran sains di sekolah yaitu literasi sains penting untuk dikuasai oleh siswa dalam kaitannya dengan bagaimana siswa dapat memahami lingkungan hidup, kesehatan, ekonomi, dan masalah-masalah lain yang dihadapi oleh masyarakat modern yang sangat bergantung pada teknologi dan kemajuan serta perkembangan ilmu pengetahuan.
Pembelajaran di sekolah melalui pelajaran IPA diharapkan dapat mengembangkan kemampuan siswa menghadapi kemajuan IPTEK dengan literasi sains, berawal dari kurikulum di sekolah.karena kita ketahuai bahwa di abad 21 ini merupakan zamab yang penuh dengan teknologi.
Terima kasih
Assalamualaikum wr.wb , menurut pendapat saya sangat penting diterapkan model pembelajaran sains di sekolah-sekolah di Indonesia karena akan dapat memajukan pendidikan Indonesia dan siswa dapat bersaing secara global karena mendaptkan pembelajaran yang langsung dan bermakna
BalasHapusIya, tenaga pendidik yang berada di daerah meliki kompetensi yang sama dengan pendidik yang berada di kota. Ada beberapa Kompetensi Guru yang harus dimiliki Kompetensi Kepribadian, Kompetensi Pedagogik, Kompetensi Profesional, dan Kompetensi Sosial. Ketika keempat kompetensi tersebut terpenuhi maka guru akan memiliki kompetensi yang sama dimanapun, namun yang menjadi pengaruh besar dan terjadi kesenjangan karna sarana prasarana, dan teknologi yang kurang memadai.
BalasHapusSalam
Agung Laksono
Menanggapi soal no 2.
BalasHapusModel pembelajaran, dipandang paling punya peran strategis dalam upaya mendongkrak keberhasilan proses belajar mengajar. Karena ia bergerak dengan melihat kondisi kebutuhan siswa, sehingga guru diharapkan mampu menyampaikan materi dengan tepat tanpa mengakibatkan siswa mengalami kebosanan. Namun sebaliknya, siswa diharapkan dapat tertarik dan terus tertarik mengikuti pelajaran, dengan keingintahuan yang berkelanjutan.
Menanggapi pertanyaan No 3, Menurut saya Tenaga pendidik didaerah saya sudah memiliki kompetensi dalam melaksanakan pembelajaran sains, hanya saja guru tersebut kebanyakan terkendala oleh sarana dan prasarana yang tidak mendukung, guna menunjang pelaksanaan model pembelajaran yang berdasarkan pada model pembelajaran SAINS
BalasHapusMenanggapi pertanyaan No 3, Menurut saya Tenaga pendidik didaerah saya sudah memiliki kompetensi dalam melaksanakan pembelajaran sains. sudah karena semua merupakan alumni pendidikan dan kepada guru sekarang ada juga sertifikasi guru dan juga pendidikan profesi selain itu juga sering di adakan pelatihan buat para guru -guru oleh pemerintah guna menciptakn guru yang bisa menerapkan pembelajaran dengan baik .
BalasHapus