MODEL PEMBELAJARAN
KONTEKSTUAL DAN MODEL PEMBELAJARAN KOLABORASI

Menurut Trianto (2010:51) Model pembelajaran merupakan suatu perencanaan atau pola yang digunakan sebagai pedoman dalam merencanakan pembelajaran di kelas atau pembelajaran tutorial. Model pembelajaran mengacu pada pendekatan pembelajaran yang akan digunakan, termasuk di dalamnytujuan-tujuan pengajaran, tahap-tahap dalam kegiatan pembelajaran, lingkungan pembelajaran, dan pengelolaan kelas.
1.        MODEL PEMBELAJARAN KONTEKSTUAL
Pembelajaran  Kontekstua(Contextual  Teaching  and  Learning) atau CTL merupakan konsep pembelajaran yang menekankan pada keterkaitan antara  materi pembelajaran dengan  dunia  kehidupan siswa secara nyata, sehingga siswa mampu menghubungkan dan menerapkan kompetensi  dalam  kehidupan  sehari-hari  (Mulyasa:2006: 102).  Menurut Sanjaya (2006: 109) mengemukakan  bahwa CTL adalah suatu konsep pembelajaran yang menekankan kepada proses keterlibatan siswa  secara penuh untuk dapamenemukan materi yang dipelajari dan menghubungkannya dengan situasi kehidupan nyata.
A.     Karakteristik Pembelajaran Kontekstual
1.      Pembelajara dilaksanaka dala konteks   autentik,   yaitu pembelajarayang  diarahkan pada  ketercapaian  keterampilan dalam konteks kehidupan nyata atau pembelajaran yang dilaksanakan dalam lingkungan yang alamiah (learning in real life setting).
2.   Pembelajaran  memberikan  kesempatan  kepada  siswa  untuk mengerjakan tugas-tugas yang bermakna (meaningful learning).
3.      Pembelajaran  dilaksanakan  dengan  memberikan  pengalaman bermakna kepada siswa (learning by doing).
4.      Pembelajaran dilaksanakan melalui kerja kelompok, berdiskusi, saling mengoreksi antar teman (learning in a group).
5.      Pembelajaran memberikan kesempatan untuk menciptakan rasa kebersamaan, kerjasama, dan saling memahami antara satu dengan yang lain secara mendalam (learning to know each other deeply).
6.      Pembelajaran dilaksanakan secara aktif, kreatif, produktif, dan mementingkan kerja sama (learning to ask, to inquiry, to work together).
7.      Pembelajaran dilaksanakan dalam situasi yang menyenangkan (learning as an enjoy activity)
B.      Komponen Utama Pembelajaran Kontekstual
1.      Konstruktivisme (Constructivism)
Komponen ini merupakan landasan berfikir (filosofi) pembelajaran CTL, yaitu bahwa pengetahuan dibangun oleh manusia sedikit demi sedikit, yang hasilnya diperluas melalui konteks yang terbatas (sempit) dan tidak sekonyong-konyong (Nurhadi: 2003: 34). Pembelajaran konstruktivisme menekankan terbangunnya pemahaman sendiri secara aktif, kreatif dan produktif berdasarkan pengetahuan terdahulu dan dari pengalaman belajar yang bermakna.
2.      Inkuiri (Menemukan)
Menurut Sanjaya (Sanjaya: 2006: 119), inkuri  artinya proses pembelajaran didasarkan pada pencarian dan penemuan  melalui proses berpikisecara sistematis. Komponen ini merupakan kegiatan inti CTL. Diawali dari pengamatan terhadap fenomena, dilanjutkan dengan kegiatan-kegiatan bermakna untuk menghasilkan temuan yang diperoleh sendiri oleh siswa. Dengan demikian pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh tidak dari hasil mengingat seperangkat  fakta,  tetapi  hasil  menemukan  sendiri dari  fakta yang dihadapinya. Langkah-langkah kegiatan inquiry, Nurhadi (2003: 43): merumuskan masalah; mengumpulkan data melalui observasi; menganalisis dan menyajikan hasil dalam tulisan, gambar, laporan, bagan, tabel, dan karya lain; dan menyajikan hasil karya pada pembaca, teman sekelas, audiens yang lain.
3.      Bertanya (Questioning)
Menurut Nurhadi (2003: 45), pengetahuan yang dimiliki seseorang selalu bermula dari bertanya. Guru menggunakan pertanyaan-pertanyaan untuk menuntun siswa berpikir dan untuk membuat penilaian secara kontinyu terhadap pemahaman siswa. Bertanya dalam pembelajaran dipandang sebagai kegiatan guru untuk mendorong, membimbing, dan menilai kemampuan berpikisiswa.  Siswa  belajar  mengajukan pertanyaan tentang gejala-gejala yang ada, belajar bagaimana merumuskan pertanyaan-pertanyaan yang dapat diuji, belajar saling bertanya tentang bukti, interprestasi, dan penjelasan-penjelasan yang ada. Pertanyaan dapat digunakan untuk berbagai macam tujuan, berbagai macam bentuk, dan berbagai macam jawaban yang ditimbulkannya.
4.      Masyarakat Belajar ( Learning Community)
Komponen ini menyarankan bahwa prestasi belajar sebaiknya diperoleh dari kerja sama dengan orang lain. Prestasi belajar bisa diperoleh dengan sharing antar teman,  kelompok, dan antara yang tahu kepada yang tidak tahu, baik di dalam maupun di luar kelas. Komponen ini terjadi apabila ada proses komunkasi dua arah. Karena pembelajaran yang dikemas dalam diskusi kelompok dengan anggota heterogen dan jumlah yang bervariasi sangat mendukung komponen ini. Anggota kelompok yang terlibat dalam komunikasi pembelajaran dapat saling belajar. Prinsip-prinsip yang bisa diperhatikan guru ketika menerapkan pembelajaran yang berkonsentrasi pada komponen learning community adalah sebagai berikut (Sanjaya: 2006: 120).
a.      Pada dasarnya prestasi belajar diperoleh dari kerjasama atau sharing dengan pihak lain.
b.      Sharing terjadi apabila ada pihak yang saling memberi dan saling menerima informasi.
c.       Sharing terjadi apabila ada komunikasi dua atau multiarah.
d.      Masyarakat belajar terjadi apabila masing-masing pihak yang terlibat di dalamnya sadar bahwa pengetahuan, pengalaman, dan  keterampilan  yang  dimilikinya  bermanfaat  bagi  yang lain.
e.      Siswa yang terlibat dalam masyarakat belajar pada dasarnya bisa menjadi sumber belajar.
5.      Pemodelan (Modeling)
Modeling adalah proses pembelajaran dengan memperagakan sesuatu sebagai contoh yang dapat ditiru oleh setiap siswa (Sanjaya:  2006:  121). Modeling  merupakan asas yang  cukup penting dalam pembelajaran CTL, sebab melalui modeling siswa dapat terhindar  dari  pembelajaran  yang  teoritis-abstrak  yang dapat memungkinkan terjadinya verbalisme. Menurut Nurhadi (2003: 49) pemodelan pada dasarnya membahasakan gagasan yang dipikirkan, mendemonstrasikan bagaimana guru menginginkan siswanya untuk belajar, dan melakukan apa yang guru inginkan agar siswanya melakukan. Pemodelan dapat berbentuk demonstrasi, pemberian contoh tentang konsep atau aktivitas belajar. Contoh itu bukan untuk ditiru persis, tapi menjadi acuan pencapaian kompetensi siswa. Dalam kontekstual, guru bukan satu-satunya model, tapi model itu dapat dirancang dengan melibatkan siswa. Model juga dapat didatangkan dari luar.
6.      Refleksi (Reflection)
Refleksi Nurhadi. (2003: 51) adalah cara berpikir tentang apa yang baru dipelajari atau berpikir ke belakang tentang apa-apa yang  sudah kita  laukan di  masa  yang  barsaja kita  terima. Releksi merupakan respon terhadap kejadian, aktivitas, atau pengetahuan terhadap apa yang baru diterima. Guru membantu siswa  membuat  hubungan-hubungan antara pengetahuan yang dimiliki  sebelumnya dengan pengetahuayang  baru. Dengan begitu, siswa merasa memperoleh sesuatu yang berguna bagi dirinya tentang apa baru dipelajarinya. Guru perlu melaksanakan refleksi pada akhir program pembelajaran. Guru menyisakan waktu sejenak agar siswa melakukan refleksi. Releksi dapat berupa:
a.      pertanyaan langsung tentang apa-apayang diperolehnya hari itu,
b.      catatan atau jurnal di buku siswa,
c.       kesan dan saran siswa mengenai pembelajaran hari itu, d) diskusi,
d.      hasil karya, dan
e.      catatan lain yang ditempuh guru untuk mengarahkan siswa kepada pemahamanmerka tentang materi yang dipelajari.
7.      Penilaian Nyata (Authentic Assesment)
setiap hari, mereka harus dapat menceritakan pengalaman atau kegiatan yang mereka lakukan setiap hari. Penilaian  harus  menekankan  kedalam  pengetahuan  dan keahlian siswa, bukan keluasanya (kuantitas). Menurut Nurhadi (2003: 52) pada hakikatnya, penilaian yang benar  adalah  menilai  apa  yang  seharusnydinilai. Penilaian nyata adalah proses yang dilakukan guru untuk mengumpulkan informasi tentang perkembangan belajar yang dilakukan siswa (Sanjaya: 2006: 122). Prinsip yang dipakai dalam penilaian serta ciri-ciri penilaian autentik adalah (Nurhadi, 2003: 52):
a.      Harus mengukur semua aspek pembelajaran: proses, kinerja, dan produk
b.      Dilaksanakan  selama  dan  sesudah  proses  pembelajaran berlangsung
c.       Menggunakan berbagai cara dan berbagai sumber
d.      Tes hanya salah satu alat pengumpul data penilaian
e.      Tugas-tugas     yang     diberikan     kepada     siswa     harus mencerminkan bagian-bagian kehidupan siswa yang nyata

C.      Langkah-langkah Pembelajaran Kontekstual
1.      Kembangkan pemikiran bahwa anak akan belajar lebih bermakna dengan cara bekerja sendiri, menemukan sendiri dan mengkontruksikan sendiri pengetahuan dan keterampilan barunya
2.      Laksanakan sejah mungkin kegiatan inkuri untuk semua topik
3.      Kembangkan sifat ingin tahu siswa dengan bertanya
4.      Ciptakan masyarakat belajara (belajar dalam kelompok-kelompok)
5.      Hadirkan model sebagai contoh pembelajaran
6.      Lakukan refleksi di akhir pertemuan
7.      Lakukan penilaian yang sebenarnya dengan berbagai cara
D.     Kelebihan dan Kekurangan Model Pembelajaran Kontekstual
Kelebihan:
1.      Memberikan kesempatan pada siswa untuk dapat maju terus sesuai dengan potensi yang dimiliki siswa sehingga siswa terlibat aktif dalam PBM
2.      Siswa dapat berfikir kritis dan kreatif dalam mengumpulkan data, memahami suatu isu dan memecahkan masalah
3.      Menyadarkan siswa tentang apa yang mereka pelajari
4.      Pemilihan informasi berdasarkan kebutuhan siswa tidak ditentukan oleh guru
5.      Pembelajaran lebih menyenangkan dan tidak membosankan
6.      Membantu siswa bekerja dengan efektif dalam kelompok
7.      Terbentuk sikap kerja sama yang baik antara individu maupun kelompok
Kekurangan:
1.      Dalam pemilihan informasi atau materi dikelas didasarkan pada kebutuhan siswa padahal dalam kelas itu tingkat kemampuan siswanya berbeda-beda sehingga guru akan kesulitan dalam menentukan materi pelajaran karena tingkat pencapaianya siswa tadi tidak sama
2.      Tidak efisien karena membutuhkan waktu yang agak lama dalam PBM
3.      Dalam proses pembelajaran dengan CTL akan nampak jelas antara siswa yang pintar dan siswa yang tidak pintar sehingga menimbulkan rasa tidak percaya diri bagi yang kurang pintar
4.      Bagi siswa yang tertinggal dalam proses pembelajaran CTL akan terus tertinggal dan sulit untuk mengejara ketertinggalan
5.      Tidak semua siswa dapat dengan mudah menyesuaikan diri dan mengembangkan kemampuan yang dimiliki siswa dengan menggunakan CTL
6.      Kemampuan setiap siswa berbeda sehingga bagi yang pintar sulit mengapresiasikan dalam bentuk lisan karena CTL lebih mengembangkan keterampilan dan kemampuan soft skill daripada intelektual
7.      Pengetahuan yang didapat oleh setiap siswa berbeda-beda dan tidak merata
8.      Peran guru tidak nampak terlalu penting karena peran guru hanya sebagai pengarah dan pembimbing.

2.        MODEL PEMBELAJARAN KOLABORASI
Model pembelajaran kolaboratif (Collaborative Learning)merupakan model  yang menempatkan peserta didik dalam kelompok kecil dan memberinya tugas di mana mereka saling membantu untuk menyelesaikan tugas atau pekerjaan kelompok. Dukungan sejawat, keragaman pandangan, pengetahuan dan keahlian sangat membantu mewujudkan belajar kolaboratif
A.       Tujuan Pembelajaran Kolaboratif
1.      Dari pendengar, pengamat dan pencatat menjadi pemecah masalah yang aktif, pemberi masukan dan suka diskusi
2.      Dari persiapan kelas dengan harapan yang rendah atau yang sedang menjadi ke persiapan kelas dengan harapan yang tinggi
3.      Dari kehadiran pribadi atau individual dengan sedikit resiko menjadi kehadiran publik dengan banyak resiko dan permasalahan
4.      Dari pilihan pribadi menjadi pilihan sesuai dengan harapan komunitasnya
5.      Dari kompetisi antar teman sejawat menjadi kolaborasi antar teman sejawat
6.      Dari tanggung jawab dan belajar mandiri menjadi tanggung jawab dan belajar saling ketergantungan
B.       Manfaat Pembelajaran Kolaboratif
1.      Meningkatkan pengetahuan anggota kelompok karena interaksi dalam kelompok merupakan faktor yang berpengaruh terhadap penguasaan konsep
2.      Siswa belajar memecahkan masalah bersama dalam kelompok
3.      Memupuk rasa kebersamaan antarsiswa, setiap individu dapat lepas dari kelompoknya
4.      Meningkatkan keberanian memunculkan ide atau pendapat untuk memecahkan masalah bagi setiap siswa yang diarahkan untuk mengajar atau memberi tahu kepada teman sekelompoknya
5.      Memupuk rasa tanggung jawab siswa dalam mencapai suatu tujuan bersama dalam bekerja agar tidak tumpang tindih atau perbedaan pendapat yang prinsip
6.      Setiap anggota meilhat dirinya sebagai bagian dari kelompok yang merasa memiliki tanggung jawab karena kebersamaan dalam belajar
C.       Langkah-langkah Pembelajaran Kolaboratif
Berikut ini langkah-langkah pembelajaran kolaboratif :
1.      Para siswa dalam kelompok menetapkan tujuan belajar dan membagi tugas sendiri-sendiri.
2.      Semua siswa dalam kelompok membaca, berdiskusi, dan menulis.
3.      Kelompok kolaboratif bekerja secara bersinergi mengidentifikasi, mendemontrasikan, meneliti, menganalisis, dan memformulasikan jawaban-jawaban tugas atau masalah dalam LKS atau masalah yang ditemukan sendiri.
4.      Setelah kelompok kolaboratif menyepakati hasil pemecahan masalah, masing-masing siswa menulis laporan sendiri-sendiri secara lengkap.
5.      Guru menunjuk salah satu kelompok secara acak (selanjutnya diupayakan agar semua kelompok dapat giliran ke depan) untuk melakukan presentasi hasil diskusi kelompok kolaboratifnya di depan kelas, siswa pada kelompok lain mengamati, mencermati, membandingkan hasil presentasi tersebut, dan menanggapi. Kegiatan ini dilakukan selama lebih kurang 20-30 menit.
6.      Masing-masing siswa dalam kelompok kolaboratif melakukan elaborasi, inferensi, dan revisi (bila diperlukan) terhadap laporan yang akan dikumpulan.
7.      Laporan masing-masing siswa terhadap tugas-tugas yang telah dikumpulkan, disusun perkelompok kolaboratif.
8.      Laporan siswa dikoreksi, dikomentari, dinilai, dikembalikan pada pertemuan berikutnya, dan didiskusikan.
D.    Kelebihan dan Kekurangan Pembelajaran Kolaboratif
Kelebihan:
1.        Siswa belajar bermusyawarah
2.        Siswa belajar menghargai pendapat orang lain
3.        Dapat mengembangkan cara berpikir kritis dan rasional
4.        Dapat memupuk rasa kerja sama
5.        Adanya persaingan yang sehat
Kelemahan:
1.   Pendapat serta pertanyaan siswa dapat menyimpang dari pokok persoalan
2.        Membutuhkan waktu cukup banyak
3.        Adanya sifat-sifat pribadi yang ingin menonjolkan diri atau sebaliknya yang lemah merasa rendah diri dan selalu tergantung pada orang lain
4.        Kebulatan atau kesimpulan bahan kadang sukar dicapai

Komentar

  1. assalamualaikum wr.wb menurut saya artikel yang anda buat sudah baik,tetapi yang ingin saya tanyakan disini yaitu : didalam pembelajaran kolaboratif terdapat beberapa komponen utama pembelajaran Kontekstual, apa yang terjadi apabila beberapa komponen tersebut tidak dapat atau bisa dipenuhi oleh tenaga pengajar didalam menerapkan model tersebut ?
    trimakasih mohon penjelasannya
    wassalamualaikum wr.wb

    BalasHapus
    Balasan
    1. waalaikum salam...terkait pertanyaan anda menurut saya jika komponen utama pembelajaran kontekstual tidak ada maka akan berpengaruh dalam pelaksanaan karena komponen utama ini terkait dengan guru dan siswa. dalam model pembelajaran ini siswa selaku pelaku utama karena siswa mencari pengalaman hidup sendiri dalam kehidupannya dan guru hanya berperan dalam pengarah dan pembimbing

      Hapus
  2. Salam edukasi...
    Artikel yang menarik... disini saya tertarik ketika model kolaboratif yang dipaparkan bisa kita mix dengan media pembelajaran... sehingga dapat menjadi variasi baru dalam pembelajaran di kelas...

    BalasHapus
    Balasan
    1. ide dan masukan yg baik yg dapat kita gunakan dalam proses pembelajaran di sekolah

      Hapus
  3. Terimakasih atas uraian yang telah diberikan. Pada uraian diatas terdapat kelemahan pada pembelajaran kontekstual, yang ingin saya tanyakan bagaimanakah seorang guru mengatasi kelemahan tersebut ? terima kasih

    BalasHapus
    Balasan
    1. terima kasih atas kunjungannya...menurut saya adapun yg seharusnya dilakukan seorang guru diantaranya adalah guru sebaiknya benar-benar tahu karakteristik siswanya terutama dalam kemampuan kognitifnya...selanjutnya guru mengarahkan dan memberi bimbingan yg lebih pada siswa yg kognitifnya rendah dan memberikan waktu yg lebih dalam belajar.

      Hapus
  4. Assalamualaikum, artikel yang ada sudah bagus yang saya mau tanyakan tentang bagaimana cara menerapkan metode kolaboratif pada pembelajaran biologi?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Walaikum Salam..terima kasih atas kunjungannya. menurut saya adapun salah satu cara yang dapat dilakukan adalah dengan cara memilih salah salah satu dari metode kolaboratif seperti model pembelajaran stad, selanjutkan tentukan materi mata pelajaran biologi yang akan dilaksanakan dengan menkondisikan kelas terhadap kebutuhan model stad tersebut seperti siswa dibagi 2 atau 3 kelompok selanjutnya masing-masing kelompok memahami materi biologi yang diberikan dan anggota kelompok yang telah memahami materi tersebut menjelaskan kepada siswa dalam kelompoknya dan kelompok lain. selanjutnya kelompok lain juga begitu sampai semua siswa memahami materi biologi yang diberikan oleh guru tersebut untuk dibahas. Diakhir pembelajaran guru menyimpulkan materi bersama dengan siswa sebagai kesimpulan akhir

      Hapus
  5. Dari uraian artikel tersebut saya mau menanyakan selain model pembelajaran kolaborative dan kontekstual kira kira model pembelajaran apalagi yang bisa disandingkan dengan model collaborative agara proses belajar mengajar terlihat menarik bagi siswa ?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Menurut saya adapun salah model pembelajaran yang dapat disandingkan dengan model collaborative adalah model cooperative learning dimana model pembelajaran collaborative menekankan pada proses dan kerjasama dan cooperative learning menekankan pada hasil dari kerjasama sehingga kedua model pembelajarn ini saling melengkapi dalam proses untuk mendapatkan hasil belajar siswa. terkait agar proses belajar mengajar bisa berjalan dengan menarik bagi siswa maka saran saya untuk menggunakan jigsaw learning

      Hapus
    2. Saya setuju dengan pendapat pak ali fernando bahwa model pembelajaran kooperatif dpt disandingkan dng model pembelajaran kolaborasi karena keduanya memiliki kemiripan yaitu bekerja sama.
      Terima kasih

      Hapus
    3. Saya setuju dengan pendapat pak ali fernando bahwa model pembelajaran kooperatif dpt disandingkan dng model pembelajaran kolaborasi karena keduanya memiliki kemiripan yaitu bekerja sama.
      Terima kasih

      Hapus
  6. Assalamualaikum terimakasih untuk artikel yang anda berikan tentu artikel ini sangat bermamfaat untuk kita semua sehingga kita lebih memahami model pembelajaran kontekstual maupun model pembelajaran kolaboratif. Setelah kita semua mempelajari nya tentu akan memunculkan banyak pertanyaan yang memang secara langsung akan menambah pemahaman kita untuk materi ini

    BalasHapus

Posting Komentar